Panggilan Haji dan Panggilan Taubat
oleh: Mas Faruq Abdul Muid, M.Pd.
Khutbah Pertama
الحمدُ للهِ الَّذي بنعمته تتمُّ الصالحاتُ، وبفضله تنزلُ الخيراتُ والبركاتُ، أحمدُه سبحانهُ على ما أنعمَ به علينا من النِّعمِ ظاهرةً وباطنةً، ونسألُه القبولَ والمغفرةَ وحسنَ الخاتمةِ. وأشهدُ أن لا إلهَ إلا اللهُ وحده لا شريكَ له تعظيمًا لشأنه، وأشهدُ أنَّ سيدَنا محمدًا عبدُه ورسولُه، الداعي إلى تعظيمِ اللهِ وإظهارِ شعائرِ دينِه.
اللهمَّ صلِّ وسلِّم وبارك على سيدِنا محمدٍ، وعلى آلِ سيدِنا محمدٍ، صلاةً وسلامًا دائمينِ متلازمينِ إلى يومِ الدينِ. أمَّا بعدُ، فيا أيُّها الحاضرون، اتقوا اللهَ فقد فازَ من اتقى.
Ma’asyirol muslimin rahimakumullah…
Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita menundukkan hati dan menguatkan tekad untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala dengan sebenar-benarnya takwa.
Ketakwaan bukan sekadar ucapan di lisan, melainkan cahaya yang hidup di dalam hati, yang membimbing setiap langkah kita untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
Takwa adalah ketika seseorang takut berbuat dosa, meskipun tidak ada manusia yang melihatnya. Takwa adalah ketika seseorang tetap berlaku jujur, meskipun ada kesempatan untuk berbuat curang. Takwa adalah ketika seseorang tetap menjaga shalat, meskipun sedang disibukkan oleh urusan dunia. Allah Ta‘ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenarbenar takwa kepada-Nya, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” QS. Ali ‘Imran: 102
Ma‘asyiral Muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Saat ini kita berada pada pertengahan bulan Dzulqa‘dah, salah satu bulan yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta‘ala, sekaligus bulan yang sangat erat kaitannya dengan persiapan ibadah haji.
Pada hari-hari ini, hati kaum muslimin di seluruh dunia tertuju ke Tanah Suci. Di Makkah, jutaan manusia berkumpul memenuhi panggilan Allah. Mereka meninggalkan rumah, keluarga, pekerjaan, dan kesibukan dunia demi menyambut seruan Allah Subhanahu wa Ta‘ala.
Kita menyaksikan jamaah haji mengenakan pakaian ihram yang sederhana. Dalam keadaan itu, tidak tampak perbedaan antara orang kaya dan orang miskin, antara pejabat dan rakyat biasa, antara orang terpandang dan orang sederhana. Semuanya sama di hadapan Allah. Yang membedakan hanyalah ketakwaan. Mereka mengucapkan talbiyah:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ
“Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kekuasaan hanyalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu.”
Ma‘asyiral Muslimin rahimakumullah,
Kalimat labbaik bukan sekadar ucapan di lisan. Kalimat itu adalah pernyataan ketaatan seorang hamba kepada Rabb-nya. Seakan-akan seorang hamba berkata, “Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Ya Allah, aku siap menaati perintahMu. Ya Allah, aku tinggalkan sebagian urusan dunia demi mencari ridha-Mu.” Allah Ta‘ala berfirman:
وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
“Serulah manusia untuk berhaji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus. Mereka datang dari segenap penjuru yang jauh.”QS. Al-Hajj: 27
Ayat ini turun ribuan tahun yang lalu, ketika belum ada pesawat terbang, belum ada kapal modern, dan belum ada kemudahan transportasi seperti hari ini. Namun, kenyataannya, sampai saat ini jutaan manusia benar-benar datang dari berbagai penjuru dunia untuk memenuhi panggilan Allah. Ini merupakan bukti bahwa janji Allah pasti benar.
Ma‘asyiral Muslimin rahimakumullah,
Tidak semua orang pada tahun ini memperoleh kesempatan untuk menunaikan ibadah haji. Ada yang belum memiliki kemampuan secara finansial. Ada yang masih menabung sedikit demi sedikit. Ada yang sudah mendaftar, tetapi masih harus menunggu antrean satu tahun, dua tahun, bahkan puluhan tahun. Bahkan, sebagian orang telah dipanggil oleh Allah melalui kematian sebelum tiba giliran keberangkatannya ke Tanah Suci.
Karena itu, ada satu hal penting yang perlu kita renungkan bersama. Panggilan haji memang hanya diwajibkan bagi orang yang mampu. Allah Ta‘ala berfirman:
فِيْهِ اٰيٰتٌۢ بَيِّنٰتٌ مَّقَامُ اِبْرٰهِيْمَ ەۚ وَمَنْ دَخَلَهٗ كَانَ اٰمِنًاۗ وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًاۗ
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.”QS. Ali ‘Imran: 97
Namun, berbeda dengan panggilan haji, panggilan taubat adalah panggilan untuk seluruh manusia. Allah memanggil setiap hamba agar kembali kepada-Nya. Allah Ta‘ala berfirman:
وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
“Bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung.” QS. An-Nur: 31
Perhatikan ayat ini. Allah memerintahkan seluruh orang beriman untuk bertaubat. Artinya, setiap manusia membutuhkan taubat. Ulama membutuhkan taubat. Pedagang membutuhkan taubat. Pejabat membutuhkan taubat. Pekerja membutuhkan taubat. Bahkan orang yang rajin beribadah pun tetap membutuhkan taubat.
Sebab, tidak ada manusia yang benar-benar bersih dari dosa dan kesalahan.
Terkadang lisan kita masih digunakan untuk membicarakan keburukan orang lain. Terkadang hati kita masih menyimpan iri dan dengki terhadap nikmat yang diterima saudara kita. Terkadang mata kita melihat hal-hal yang tidak diridhai Allah. Terkadang shalat kita masih tertunda. Terkadang membaca Al-Qur’an terkalahkan oleh kesibukan dunia dan kelalaian terhadap gawai.
Manusia adalah tempat salah dan lupa. Namun, sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang segera bertaubat kepada Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap anak Adam pasti melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah orang-orang yang bertaubat.” HR. At-Tirmidzi no. 2499 dan Ibnu Majah no. 4251
Bahkan Rasulullah ﷺ, manusia paling mulia dan telah dijamin ampunan oleh Allah, tetap memperbanyak taubat dan istighfar. Beliau ﷺ bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ، فَإِنِّي أَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah. Sesungguhnya aku bertaubat kepadaNya seratus kali dalam sehari.” HR. Muslim no. 2702
Jika Rasulullah ﷺ saja memperbanyak taubat, maka bagaimana dengan kita yang begitu banyak kekurangan dan dosa?
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Hakikat taubat adalah kembali kepada Allah. Kembali dari jalan maksiat menuju jalan ketaatan. Kembali dari meninggalkan shalat menuju penjagaan shalat. Kembali dari sifat pemarah menuju kesabaran. Kembali dari kehidupan yang jauh dari masjid menuju kehidupan yang dekat dengan ibadah dan ketaatan. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
حَقِيقَةُ التَّوْبَةِ هِيَ الرُّجُوعُ إِلَى اللَّهِ مِنَ الطَّرِيقِ الْمُبْعِدِ عَنْهُ إِلَى الطَّرِيقِ الْمُوصِلِ إِلَيْهِ
“Hakikat taubat adalah kembali kepada Allah dari jalan yang menjauhkan diri dariNya menuju jalan yang mengantarkan kepada-Nya.” (Madarijus Salikin, karya Imam Ibnul Qayyim)
Sering kali manusia baru mengingat Allah ketika sedang diuji. Ketika sakit, ia mulai rajin berdoa. Ketika usaha mengalami kesulitan, ia mulai memperbanyak dzikir. Ketika tertimpa musibah, ia mulai mendekat ke masjid.
Padahal, sejak awal Allah telah memberikan begitu banyak nikmat kepada kita. Kita masih dapat bernapas, makan, berjalan, bekerja, berkumpul dengan keluarga, dan menikmati berbagai karunia yang tidak terhitung jumlahnya. Akan tetapi, manusia sering lalai untuk bersyukur.
Oleh karena itu, Allah memanggil kita agar kembali kepada-Nya sebelum terlambat, sebelum kesempatan berakhir, dan sebelum pintu taubat tertutup.
Ma‘asyiral Muslimin rahimakumullah,
Salah satu kesalahan besar manusia adalah menunda taubat.
Sebagian orang berkata, “Nanti jika sudah tua, saya akan bertaubat.” Ada pula yang berkata, “Nanti jika anak-anak sudah besar, saya akan lebih rajin mengaji.” Sebagian lain berkata, “Nanti jika usaha sudah mapan, saya akan lebih aktif ke masjid.”
Padahal, kematian tidak menunggu kesiapan manusia. Kuburan tidak hanya diisi oleh orang tua. Banyak pula anak muda yang telah mendahului kita. Banyak orang yang tampak sehat, namun tiba-tiba dipanggil oleh Allah.
Kematian setiap manusia telah ditetapkan waktunya. Tidak dapat dimajukan dan tidak dapat diundur. Oleh karena itu, janganlah kita menunda taubat.
Allah Ta‘ala berfirman:
حَتّٰٓى اِذَا جَآءَ اَحَدَهُمُ الۡمَوۡتُ قَالَ رَبِّ ارۡجِعُوۡنِۙ لَعَلِّىۡۤ اَعۡمَلُ صَالِحًـا فِيۡمَا تَرَكۡتُ
“Hingga apabila kematian datang kepada salah seorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia, agar aku dapat beramal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan.’” QS. Al-Mu’minun: 99–100
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هِرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِك
Namun, ketika kematian telah datang, penyesalan tidak lagi bermanfaat. Kesempatan hidup hanya diberikan sekali. Rasulullah ﷺ mengingatkan:
Ma‘asyiral Muslimin rahimakumullah,
Taubat yang benar bukan hanya ucapan di lisan. Bukan hanya mengucapkan astaghfirullah, tetapi setelah itu tetap kembali kepada dosa yang sama tanpa ada usaha untuk berubah.
Taubat yang benar memiliki tanda-tanda. Di antaranya adalah menyesali dosa yang telah dilakukan, berhenti dari perbuatan dosa, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya, serta mengembalikan hak orang lain apabila dosa tersebut berkaitan dengan sesama manusia.
Jika pernah memfitnah seseorang, hendaknya meminta maaf. Jika memiliki utang, hendaknya berusaha membayarnya. Jika pernah menyakiti pasangan, keluarga, tetangga, atau saudara, hendaknya memperbaiki hubungan. Jika selama ini lalai dalam shalat, maka mulai hari ini hendaknya shalat dijaga dengan lebih baik.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لنَّدَمُ تَوْبَةٌ
“Penyesalan adalah taubat.” HR. Ibnu Majah no. 4252
Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:
التَّوْبَةُ تَجْمَعُهَا سِتَّةُ أَشْيَاءَ: النَّدَمُ عَلَى مَا مَضَى، وَقَضَاءُ الْفَرَائِضِ، وَرَدُّ الْمَظَالِمِ، وَاسْتِحْلَالُ الْخُصُومِ، وَأَنْ تَعْزِمَ أَلَّا تَعُودَ، وَأَنْ تُرِيَ نَفْسَكَ فِي طَاعَةِ اللَّهِ
“Taubat itu terkumpul dalam enam perkara: menyesali dosa yang telah lalu, menunaikan kewajiban, mengembalikan hak-hak orang yang dizalimi, meminta kehalalan kepada orang yang pernah disakiti, bertekad untuk tidak mengulangi dosa, dan mendidik jiwa agar taat kepada Allah.”
Ma‘asyiral Muslimin rahimakumullah,
Ibadah haji yang mabrur akan menjadi sebab diampuninya dosa. Rasulullah ﷺbersabda:
مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمٍ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
“Barang siapa menunaikan haji karena Allah, lalu tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti pada hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya.” HR. Bukhari no. 1521 dan Muslim no. 1350
Namun, inti terbesar dari ibadah haji adalah perubahan diri. Orang yang pulang dari haji hendaknya menjadi pribadi yang lebih jujur, lebih sabar, lebih rajin beribadah, lebih lembut kepada keluarga, dan lebih peduli kepada tetangga serta masyarakat. Jangan sampai seseorang telah mendapatkan gelar haji, tetapi akhlaknya masih menyakiti orang lain. Jangan sampai seseorang telah pulang dari Tanah Suci, tetapi lisannya masih kotor, hatinya masih keras, dan perilakunya belum mencerminkan nilai-nilai ketaatan kepada Allah.
Bagi saudara-saudara kita yang belum mampu menunaikan haji, janganlah berputus asa. Sebab, pintu taubat terbuka luas bagi setiap hamba. Rahmat Allah lebih luas daripada dosa-dosa kita. Allah Ta‘ala berfirman:
قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًاۗ
“Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” QS. Az-Zumar: 53
Marilah kita bersama-sama memperbaiki diri kita untuk menjadi hamba yang lebih baik, lebih dekat kepada Allah. selama kita masih diberi kehidupan, selama tubuh masih diberi kesehatan, dan mumpung Allah masih memberikan kesempatan.
Marilah kita jagal shalat lima waktu. Kita perbanyak membaca Al-Qur’an. Kita tinggalkan maksiat. Kita perbaiki hubungan dengan sesama. Semoga Allah mengampuni seluruh dosa kita, memberikan taufik dan inayah-Nya agar kita senantiasa bertaubat kepadaNYA dengan taubatan nasuha.
Semoga saudara-saudara kita yang pada tahun ini menunaikan ibadah haji diberikan kemudahan, kelancaran, kesehatan, dan keselamatan. Semoga mereka kembali ke tanah air dengan memperoleh haji yang mabrur. Dan semoga kita yang belum diberikan kesempatan menunaikan ibadah haji pada tahun ini, Allah anugerahkan kemampuan dan kesempatan untuk melaksanakan rukun Islam yang kelima pada tahun-tahun yang akan datang.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمُ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لله حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ. اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ به وَ كَفَرَ. وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ سَيِّدُ الخلائق وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ مصابيح الغرر وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
اَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ الله اِتَّقُوْا الله مِنْ سَمَاعِ اللَغْوِ وفُضُلِ الخَبَر وَانْتَـهُوا عَمَّا نّهّاكُمْ عَنْهُ وَزَجَر وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ أَمَرَكُم بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِه،وَثَنَّى بِالمَلَائِكَةِ المُسَبِّحَةِ لِقُدْسِهِ وَثَلَّثَ بِكُم أَيُّهَا المُؤْمِنُونَ مِن بَرِيَّةِ جِنِّهِ وَإِنْسِه وَفَالَ تَعَالَى مُخْبِرًا وَآمرًا: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيّ يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَ َارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى سيدنا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اَلِ سيدنا اِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وارض اللهم عن الخلفاء الراشدين ساداتنا أبي بكر وعمر وعثمان وعلي وعن سائر الصحابة والتابعين والتابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين وعنا معهم برحمتك يا أرحم الراحمين. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ وَقَاضِيَ الْحَاجَاتِ. اللهم أعزّ الإسلام والمسلمين واخذل الكفرة والمبتدعة والمشركين. اللهم وفّق ولاة أمورنا إلى ما فيه صلاح الإسلام والمسلمين. اللهم أحببهم للرعية وأحبب الرعية منهم. واجعل جمهورية إندونيسا هذه بلدة آمنة مطمئنّة وسائر بلدان المسلمين إنك على ما تشاء قدير. رَبَّنَا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولَا تَجْعَلْ فِى قُلُوْبَنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ اَمَنُوْا رَبَّنَا اِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ الله! اِنَّ الله يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَ الْإِحْسَانِ وَ اِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَ يَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْىِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَّكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوْا الله الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَ اشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ واسألوا من فضله يؤتكم وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ .