โ˜Ž 081234516441 โœ‰ ppyu39a@gmail.com
๐Ÿ“ Sidoresmo Dalam II/39 A Kel. Jagir Kec. Wonokromo Surabaya
Logo Pondok Pesantren Yanabi'ul Ulum Pondok Pesantren Yanabi'ul Ulum PPYU Sidoresmo
โ† Semua Berita

Taat Kepada Pemerintah yang Sah

๐Ÿ“… 04 May 2026
Taat Kepada Pemerintah yang Sah

Oleh: Mas Faruq Abdul Muid, M.Pd.ย 

Khotbah Pertama

ย 

ุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ุฃู‡ู„ ุงู„ุญู…ุฏ ูˆุงู„ุซู†ุงุกุŒ ุงู„ู…ู†ูุฑุฏ ุจุฑุฏุงุก ุงู„ูƒุจุฑูŠุงุกุŒ ุงู„ู…ุชูˆุญุฏ ุจุตูุงุช ุงู„ู…ุฌุฏ ูˆุงู„ุนู„ุงุกุŒ ุงู„ู…ุคูŠุฏ ุตููˆุฉ ุงู„ุฃูˆู„ูŠุงุก ุจู‚ูˆุฉ ุงู„ุตุจุฑ ุนู„ู‰ ุงู„ุณุฑุงุก ูˆุงู„ุถุฑุงุกุŒ ูˆุงู„ุดูƒุฑ ุนู„ู‰ ุงู„ุจู„ุงุก ูˆุงู„ู†ุนู…ุงุกุŒ ูˆุงู„ุตู„ุงุฉ ุนู„ู‰ ู…ุญู…ุฏ ุณูŠุฏ ุงู„ุฃู†ุจูŠุงุก ูˆุนู„ู‰ ุฃุตุญุงุจู‡ ุณุงุฏุฉ ุงู„ุฃุตููŠุงุกุŒ ูˆุนู„ู‰ ุขู„ู‡ ู‚ุงุฏุฉ ุงู„ุจุฑุฑุฉ ุงู„ุฃุชู‚ูŠุงุกุŒ ุตู„ุงุฉ ู…ุญุฑูˆุณุฉ ุจุงู„ุฏูˆุงู… ุนู† ุงู„ูู†ุงุกุŒ ูˆู…ุตูˆู†ุฉ ุจุงู„ุชุนุงู‚ุจ ุนู† ุงู„ุชุตุฑู… ูˆุงู„ุงู†ู‚ุถุงุก.

ุฃูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃูŽู†ู’ ู„ุงูŽ ุฅูู„ู‡ูŽ ุฅูู„ุงู‘ ุงู„ู„ู‡ู ูˆุญุฏู‡ ู„ุงุดุฑูŠูƒ ู„ู‡ ูˆูŽุฃูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃูŽู†ู‘ ู…ูุญูŽู…ู‘ุฏู‹ุง ุนูŽุจู’ุฏูู‡ู ูˆูŽุฑูŽุณููˆู’ู„ูู‡ู. ุงู„ู„ู‡ู… ุตู„ ุนู„ู‰ ุณูŠุฏู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุนู„ู‰ ุขู„ู‡ ูˆุฃุตุญุงุจู‡ ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุชูŽุณู’ู„ููŠู’ู…ู‹ุง ูƒูŽุซููŠู’ุฑู‹ุงุŒ ุฃู…ุง ุจุนุฏู......

ููŠุง ุนุจุงุฏ ุงู„ู„ู‡ ุฃูˆุตูŠูƒู… ูˆู†ูุณูŠ ุจุชู‚ูˆู‰ ุงู„ู„ู‡ ูู‚ุฏ ูุงุฒ ู…ู† ุงุชู‚ู‰ ูˆ ู‚ุฏ ุฎุงุจ ู…ู† ุทุบู‰ ูˆุนุตู‰

Maโ€™asyirol muslimin rahimakumullahโ€ฆ

Alhamdulillah, pada kesempatan mulia ini kita bisa hadir di majelis yang penuh berkah ini. Keberadaan kita di sini tidak terlepas dari anugerah dan nikmat rezeki yang telah diberikan kepada kita, terutama nikmat berupa iman dan islam, sehingga wajib bagi kita untuk senantiasa bersyukur kepada Allah.

Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad saw juga harus senantiasa kita haturkan karena beliaulah sosok yang telah mengajarkan umatnya untuk menjadi pribadi-pribadi yang pandai bersyukur atas nikmat rezeki ini. Allah SWT berfirman dalam Al Quran,

ููŽุงุฐู’ูƒูุฑููˆู’ู†ููŠู’ู“ ุงูŽุฐู’ูƒูุฑู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽุงุดู’ูƒูุฑููˆู’ุง ู„ููŠู’ ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽูƒู’ููุฑููˆู’ู†ู

โ€œMaka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.โ€ (QS. Al-Baqarah: 152)

Dengan meningkatkan sikap syukur, insya Allah kita dapat mencapai tingkat ketakwaan. Sikap syukur juga berkaitan dengan keberkahan. Orang yang rajin bersyukur, insya Allah, akan diberkahi dalam hidupnya. Dia akan merasa cukup dengan apa pun rezeki yang diberikan.

Maโ€™asyirol muslimin rahimakumullahโ€ฆ

Taโ€™at dan tidak memberontak kepada pemimpin sah yang dipilih dan diangkat secara konstitusional selama tidak memerintah dalam hal yang bertentangan dengan perintah Allah dan RasulNya adalah suatu kewajiban yang tidak bisa ditawar. sebagaimana disebutkan dalam Al Kitab dan As Sunnah. Allah Taโ€™ala berfirman,

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠูู‘ู‡ูŽุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขูŽู…ูŽู†ููˆุง ุฃูŽุทููŠุนููˆุง ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ูˆูŽุฃูŽุทููŠุนููˆุง ุงู„ุฑูŽู‘ุณููˆู„ูŽ ูˆูŽุฃููˆู„ููŠ ุงู„ู’ุฃูŽู…ู’ุฑู ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’

โ€œHai orang-orang yang beriman, taโ€™atilah Allah dan taโ€™atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.โ€ (QS. An Nisaโ€™ [4] : 59)

Dalam ayat ini Allah menjadikan ketaatan kepada pemimpin pada urutan ketiga setelah ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Namun, untuk pemimpin di sini tidaklah datang dengan lafazh โ€˜taโ€™atilahโ€™ karena ketaatan kepada pemimpin merupakan ikutan (taabiโ€™) dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu โ€˜alaihi wa sallam. Oleh karena itu, apabila seorang pemimpin memerintahkan untuk berbuat maksiat kepada Allah, maka tidak ada lagi kewajiban dengar dan taโ€™at.

Rasulullah SAW Bersabda dalam Hadist yang diriwayatkan dari Sahabat Hudzaifah Al Yamani:

ยซ ูŠูŽูƒููˆู†ู ุจูŽุนู’ุฏูู‰ ุฃูŽุฆูู…ูŽู‘ุฉูŒ ู„ุงูŽ ูŠูŽู‡ู’ุชูŽุฏููˆู†ูŽ ุจูู‡ูุฏูŽุงู‰ูŽ ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูŽุณู’ุชูŽู†ูู‘ูˆู†ูŽ ุจูุณูู†ูŽู‘ุชูู‰ ูˆูŽุณูŽูŠูŽู‚ููˆู…ู ูููŠู‡ูู…ู’ ุฑูุฌูŽุงู„ูŒ ู‚ูู„ููˆุจูู‡ูู…ู’ ู‚ูู„ููˆุจู ุงู„ุดูŽู‘ูŠูŽุงุทููŠู†ู ููู‰ ุฌูุซู’ู…ูŽุงู†ู ุฅูู†ู’ุณู ยป. ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูู„ู’ุชู ูƒูŽูŠู’ููŽ ุฃูŽุตู’ู†ูŽุนู ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฅูู†ู’ ุฃูŽุฏู’ุฑูŽูƒู’ุชู ุฐูŽู„ููƒูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ยซ ุชูŽุณู’ู…ูŽุนู ูˆูŽุชูุทููŠุนู ู„ูู„ุฃูŽู…ููŠุฑู ูˆูŽุฅูู†ู’ ุถูุฑูุจูŽ ุธูŽู‡ู’ุฑููƒูŽ ูˆูŽุฃูุฎูุฐูŽ ู…ูŽุงู„ููƒูŽ ููŽุงุณู’ู…ูŽุนู’ ูˆูŽุฃูŽุทูุนู’ ยป.

โ€œNanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku (dalam ilmu, pen) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal, pen). Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. โ€œ

Aku berkata, โ€œWahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?โ€

Beliau bersabda, โ€Dengarlah dan taโ€™at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan taโ€™at kepada mereka.โ€ (HR. Muslim)

Makna zhohir (tekstual) dari hadits ini adalah kewajiban mendengar dan taโ€™at kepada pemimpin walaupun mereka bermaksiat kepada Allah selama tidak menyuruh kita untuk berbuat maksiat kepada Allah.

Padahal menyiksa punggung dan mengambil harta tanpa ada sebab yang dibenarkan oleh syariโ€™at โ€“tanpa ragu lagi- termasuk maksiat. Seseorang tidak boleh mengatakan kepada pemimpinnya tersebut, โ€œSaya tidak akan taโ€™at kepadamu sampai engkau menaati Rabbmu.โ€ Perkataan semacam ini adalah suatu yang terlarang. Bahkan seseorang wajib menaati mereka (pemimpin) walaupun mereka durhaka kepada Rabbnya.

Adapun jika mereka memerintahkan kita untuk bermaksiat kepada Allah, maka kita dilarang untuk mendengar dan mentaati mereka. Karena Rabb pemimpin kita dan Rabb kita (rakyat) adalah satu yaitu Allah Taโ€™ala oleh karena itu wajib taโ€™at kepada-Nya. Apabila mereka memerintahkan kepada maksiat maka tidak ada kewajiban mendengar dan taโ€™at.

Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ู„ุงูŽ ุทูŽุงุนูŽุฉูŽ ููู‰ ู…ูŽุนู’ุตููŠูŽุฉู ุŒ ุฅูู†ูŽู‘ู…ูŽุง ุงู„ุทูŽู‘ุงุนูŽุฉู ููู‰ ุงู„ู’ู…ูŽุนู’ุฑููˆูู

โ€œTidak ada kewajiban taโ€™at dalam rangka bermaksiat (kepada Allah). Ketaatan hanyalah dalam perkara yang maโ€™ruf (bukan maksiat).โ€ (HR. Bukhari no. 7257)

Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam juga bersabda,

ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุกู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ู ุŒ ูููŠู…ูŽุง ุฃูŽุญูŽุจูŽู‘ ูˆูŽูƒูŽุฑูู‡ูŽ ุŒ ู…ูŽุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูุคู’ู…ูŽุฑู’ ุจูู…ูŽุนู’ุตููŠูŽุฉู ุŒ ููŽุฅูุฐูŽุง ุฃูู…ูุฑูŽ ุจูู…ูŽุนู’ุตููŠูŽุฉู ููŽู„ุงูŽ ุณูŽู…ู’ุนูŽ ูˆูŽู„ุงูŽ ุทูŽุงุนูŽุฉูŽ

โ€œSeorang muslim wajib mendengar dan taat dalam perkara yang dia sukai atau benci selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat. Apabila diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan taat.โ€ (HR. Bukhari no. 7144)

Ibnu Rusyd dalam kitab al-Bayan wa at-Tahsil wa Syarh wa Taujih wa Taโ€™lil li Masaili al-Mustakhrijah, mengatakan,

ูˆุงุฌุจ ุนู„ู‰ ุงู„ุฑุฌู„ ุทุงุนุฉ ุงู„ุฅู…ุงู… ููŠู…ุง ุฃุญุจ ุฃูˆ ูƒุฑู‡ุŒ ูˆุฅู† ูƒุงู† ุบูŠุฑ ุนุฏู„ุŒ ู…ุง ู„ู… ูŠุฃู…ุฑู‡ ุจู…ุนุตูŠุฉย ย 

Artinya, Wajib atas seseorang taat kepada pemimpin, pada apa yang ia sukai dan ia benci, meskipun pemimpin itu berlaku tidak adil. Tapi dengan catatan, pemimpin itu tak menyuruh maksiat pada Allah.

Sementara itu, Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin, juga berpendapat serupa. Pemimpin baginya adalah penjamin tegaknya agama. Tak sepantasnya pemimpin itu dihina. Tidak pula sepatutnya direndahkan. Seorang muslim yang baik, diharuskan taat pada pemimpin, sekalipun dia zalim. Al Ghazali bertutur dalam Ihya Ulumiddin Jilid 4 (h.99).

ย ูˆุงุนู„ู… ุฃู† ุงู„ุณู„ุทุงู† ุจู‡ ู‚ูˆุงู… ุงู„ุฏูŠู† ูู„ุง ูŠู†ุจุบูŠ ุฃู† ูŠุณุชุญู‚ุฑ ูˆุฅู† ูƒุงู† ุธุงู„ู…ุงู‹ ูุงุณู‚ุงู‹

Artinya, "Dan ketahuilah bahwa pemimpin adalah pilar agama, maka tidak sepatutnya dia dihina, meskipun dia adalah seorang yang zalim dan fasik."

Maโ€™asyirol muslimin rahimakumullahโ€ฆ

Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah dalam mengatakan,

โ€œSesungguhnya di antara hikmah Allah Taโ€™ala dalam keputusan-Nya memilih para raja, pemimpin dan pelindung umat manusia adalah sama dengan amalan rakyatnya bahkan perbuatan rakyat seakan-akan adalah cerminan dari pemimpin dan penguasa mereka. Jika rakyat lurus, maka akan lurus juga penguasa mereka. Jika rakyat adil, maka akan adil pula penguasa mereka. Namun, jika rakyat berbuat zholim, maka penguasa mereka akan ikut berbuat zholim. Jika tampak tindak penipuan di tengah-tengah rakyat, maka demikian pula hal ini akan terjadi pada pemimpin mereka. Jika rakyat menolak hak-hak Allah dan enggan memenuhinya, maka para pemimpin juga enggan melaksanakan hak-hak rakyat dan enggan menerapkannyaโ€.

Dengan demikian setiap amal perbuatan rakyat akan tercermin pada amalan penguasa mereka. Berdasarkah hikmah Allah, seorang pemimpin yang jahat, keji dan korup hanyalah diangkat sebagaimana keadaan rakyatnya. Ketika masa-masa awal Islam merupakan masa terbaik, maka demikian pula pemimpin pada saat itu. Ketika rakyat mulai rusak, maka pemimpin mereka juga akan ikut rusak. Dengan demikian berdasarkan hikmah Allah, apabila pada zaman kita ini dipimpin oleh pemimpin seperti Muโ€™awiyah, Umar bin Abdul Aziz, apalagi dipimpin oleh Abu Bakar dan Umar, maka tentu pemimpin kita itu sesuai dengan keadaan kita. Begitu pula pemimpin orang-orang sebelum kita tersebut akan sesuai dengan kondisi rakyat pada saat itu. Masing-masing dari kedua hal tersebut merupakan konsekuensi dan tuntunan hikmah Allah Taโ€™ala

Pada masa pemerintahan โ€˜Ali bin Abi Tholib radhiyallahu โ€˜anhu ada seseorang yang bertanya kepada beliau, โ€œKenapa pada zaman kamu ini banyak terjadi pertengkaran dan fitnah (musibah), sedangkan pada zaman Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam tidak?โ€ Sy. Ali menjawab,โ€œKarena pada zaman Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam yang menjadi rakyatnya adalah aku dan sahabat lainnya. Sedangkan pada zamanku yang menjadi rakyatnya adalah kalian.โ€

Maโ€™asyirol muslimin rahimakumullahโ€ฆ

Sebagaimana dalam penjelasan yang telah lewat bahwa pemimpin adalah cerminan rakyatnya. Jika rakyat rusak, maka pemimpin juga akan demikian. Maka hendaklah kita sebagai rakyat senantiasa mendoโ€™akan kebaikan, petunjuk dan pertolongan Allah bagi pemimpin kita dan bukanlah mencela apalagi melaknatnya. Karena doโ€™a kebaikan kita kepada mereka merupakan sebab mereka menjadi baik sehingga kita juga akan ikut merasakan kebaikan tersebut. Namun apabila yang kita lakukan adalah mencela, mendoakan jelek dan melaknat mereka, maka mereka akan semakin jelek dan buruk, serta semakin dzalim sehingga kita pulalah yang merasakan keburukan, kejelekan serta kedzaliman mereka.

Ingatlah pula bahwa doโ€™a seseorang kepada saudaranya dalam keadaan saudaranya tidak mengetahuinya adalah salah satu doโ€™a yang terkabulkan.

Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ุฏูŽุนู’ูˆูŽุฉู ุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุกู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ู ู„ุฃูŽุฎููŠู‡ู ุจูุธูŽู‡ู’ุฑู ุงู„ู’ุบูŽูŠู’ุจู ู…ูุณู’ุชูŽุฌูŽุงุจูŽุฉูŒ ุนูู†ู’ุฏูŽ ุฑูŽุฃู’ุณูู‡ู ู…ูŽู„ูŽูƒูŒ ู…ููˆูŽูƒูŽู‘ู„ูŒ ูƒูู„ูŽู‘ู…ูŽุง ุฏูŽุนูŽุง ู„ุฃูŽุฎููŠู‡ู ุจูุฎูŽูŠู’ุฑู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽู„ูŽูƒู ุงู„ู’ู…ููˆูŽูƒูŽู‘ู„ู ุจูู‡ู ุขู…ููŠู†ูŽ ูˆูŽู„ูŽูƒูŽ ุจูู…ูุซู’ู„ู

โ€œDoโ€™a seorang muslim kepada saudaranya ketika saudaranya tidak mengetahuinya adalah doโ€™a yang mustajab (terkabulkan). Di sisinya ada malaikat (yang memiliki tugas mengaminkan doโ€™anya kepada saudarany, pen). Ketika dia berdoโ€™a kebaikan kepada saudaranya, malaikat tersebut berkata : Amin, engkau akan mendapatkan yang sama dengannya.โ€ (HR. Muslim no. 2733)

Begitu pula doa orang yang terdzalimi adalah doa yang mustajab, maka hendaklah ia menggunakan doa tersebut untuk kebaikan dirinya dan pemimpinnya, bukan untuk memuaskan nafsunya dengan mendoakan keburukan bagi pemimpin walupun dhalim.

Semoga Allah senantiasa menganugrahkan kepada kita pemimpin-pemimpin yang baik, serta terus memberikan kepada mereka petunjuk agar berbuat baik kepada rakyatnya, serta menjadikan negara kita tercinta ini sebagai baldatun toyyibatun wa rabbun ghoruf gemah ripah loh jinawi.

ย 

ุจูŽุงุฑูŽูƒูŽ ุงู„ู„ู‡ู ู„ููŠ ูˆูŽู„ูŽูƒูู…ู’ ูููŠ ุงู„ู’ู‚ูุฑู’ุขู†ู ุงู„ู’ุนูŽุธููŠู’ู…ูุŒ ูˆูŽู†ูŽููŽุนูŽู†ููŠ ูˆูŽุฅููŠูŽู‘ุงูƒูู…ู’ ุจูู…ูŽุง ูููŠู’ู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุขูŠูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ุฐูู‘ูƒู’ุฑู ุงู„ู’ุญูŽูƒููŠู’ู…ู. ุฃูŽู‚ููˆู’ู„ู ู‚ูŽูˆู’ู„ููŠ ู‡ุฐูŽุง ูˆูŽุงูŽุณู’ุชูŽุบู’ููุฑู ุงู„ู„ู‡ูŽ ู„ููŠ ูˆูŽู„ูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽู„ูุณูŽุงุฆูุฑู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููŠู’ู†ูŽ ู…ูู†ู’ ูƒูู„ูู‘ ุฐูŽู†ู’ุจูุŒ ููŽุงุณู’ุชูŽุบู’ููุฑููˆู’ู‡ู ุฅูู†ูŽู‘ู‡ู ู‡ููˆูŽ ุงู„ู’ุบูŽูููˆู’ุฑู ุงู„ุฑูŽู‘ุญููŠู’ู…ู.

ย 

Khutbah Kedua

ุงูŽู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ู„ู„ู‡ ุญูŽู…ู’ุฏู‹ุง ูƒูŽุซููŠู’ุฑู‹ุง ูƒูŽู…ูŽุง ุงูŽู…ูŽุฑูŽ. ุงูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุงูŽู†ู’ ู„ูŽุง ุงูู„ูŽู‡ูŽ ุงูู„ู‘ูŽุง ุงู„ู„ู‡ ูˆูŽุญู’ุฏูŽู‡ู ู„ูŽุง ุดูŽุฑููŠู’ูƒูŽ ู„ูŽู‡ู ุงูุฑู’ุบูŽุงู…ู‹ุง ู„ูู…ูŽู†ู’ ุฌูŽุญูŽุฏูŽ ุจู‡ ูˆูŽ ูƒูŽููŽุฑูŽ. ูˆูŽ ุงูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุงูŽู†ู‘ูŽ ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู‹ุง ุนูŽุจู’ุฏูู‡ู ูˆูŽ ุฑูŽุณููˆู’ู„ูู‡ู ูˆูŽุญูŽุจููŠู’ุจูู‡ู ูˆูŽุฎูŽู„ููŠู’ู„ูู‡ู ุณูŽูŠู‘ูุฏู ุงู„ุฎู„ุงุฆู‚ ูˆูŽุงู„ู’ุจูŽุดูŽุฑู. ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ู ูˆูŽ ุณูŽู„ู‘ูู…ู’ ูˆูŽ ุจูŽุงุฑููƒู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุณูŠุฏู†ุง ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ูˆูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงูŽู„ูู‡ู ูˆูŽุงูŽุตู’ุญูŽุงุจูู‡ู ู…ุตุงุจูŠุญ ุงู„ุบุฑุฑ ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุชูŽุณู’ู„ููŠู’ู…ู‹ุง ูƒูŽุซููŠู’ุฑู‹ุง.

ุงูŽู…ู‘ูŽุง ุจูŽุนู’ุฏูุŒ ููŽูŠูŽุง ุนูุจูŽุงุฏูŽ ุงู„ู„ู‡ ุงูุชู‘ูŽู‚ููˆู’ุง ุงู„ู„ู‡ ู…ูู†ู’ ุณูŽู…ูŽุงุนู ุงู„ู„ูŽุบู’ูˆู ูˆููุถูู„ู ุงู„ุฎูŽุจูŽุฑ ูˆูŽุงู†ู’ุชูŽู€ู‡ููˆุง ุนูŽู…ู‘ูŽุง ู†ู‘ู‡ู‘ุงูƒูู…ู’ ุนูŽู†ู’ู‡ู ูˆูŽุฒูŽุฌูŽุฑ ูˆูŽุงุนู’ู„ูŽู…ููˆู’ุง ุงูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‡ูŽ ุฃูŽู…ูŽุฑูŽูƒูู… ุจูุฃูŽู…ู’ุฑู ุจูŽุฏูŽุฃูŽ ูููŠู’ู‡ู ุจูู†ูŽูู’ุณูู‡ุŒูˆูŽุซูŽู†ู‘ูŽู‰ ุจูุงู„ู…ูŽู„ูŽุงุฆููƒูŽุฉู ุงู„ู…ูุณูŽุจู‘ูุญูŽุฉู ู„ูู‚ูุฏู’ุณูู‡ู ูˆูŽุซูŽู„ู‘ูŽุซูŽ ุจููƒูู… ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู…ูุคู’ู…ูู†ููˆู†ูŽ ู…ูู† ุจูŽุฑููŠู‘ูŽุฉู ุฌูู†ู‘ูู‡ู ูˆูŽุฅูู†ู’ุณูู‡ ูˆูŽููŽุงู„ูŽ ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ู…ูุฎู’ุจูุฑู‹ุง ูˆูŽุขู…ุฑู‹ุง: ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‡ูŽ ูˆูŽู…ูŽู„ูŽุงุฆููƒูŽุชูŽู‡ู ูŠูุตูŽู„ู‘ููˆู’ู†ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ ูŠูŽุงุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู’ู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุตูŽู„ู‘ููˆุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูู…ููˆุง ุชูŽุณู’ู„ููŠู’ู…ู‹ุง. ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูู…ู’ ูˆูŽ ูŽุงุฑููƒู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุณูŠุฏู†ุง ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุงูŽู„ู ุณูŠุฏู†ุง ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ูƒูŽู…ูŽุง ุตูŽู„ู‘ูŽูŠู’ุชูŽ ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ู’ุชูŽ ูˆูŽุจูŽุงุฑูŽูƒู’ุชูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุณูŠุฏู†ุง ุงูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู’ู…ูŽ ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุงูŽู„ู ุณูŠุฏู†ุง ุงูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู’ู…ูŽ ููู‰ ุงู„ู’ุนูŽุงู„ูŽู…ููŠู’ู†ูŽ ุงูู†ู‘ูŽูƒูŽ ุญูŽู…ููŠู’ุฏูŒ ู…ูŽุฌููŠู’ุฏูŒ. ูˆุงุฑุถ ุงู„ู„ู‡ู… ุนู† ุงู„ุฎู„ูุงุก ุงู„ุฑุงุดุฏูŠู† ุณุงุฏุงุชู†ุง ุฃุจูŠ ุจูƒุฑ ูˆุนู…ุฑ ูˆุนุซู…ุงู† ูˆุนู„ูŠ ูˆุนู† ุณุงุฆุฑ ุงู„ุตุญุงุจุฉ ูˆุงู„ุชุงุจุนูŠู† ูˆุงู„ุชุงุจุนูŠู† ู„ู‡ู… ุจุฅุญุณุงู† ุฅู„ู‰ ูŠูˆู… ุงู„ุฏูŠู† ูˆุนู†ุง ู…ุนู‡ู… ุจุฑุญู…ุชูƒ ูŠุง ุฃุฑุญู… ุงู„ุฑุงุญู…ูŠู†. ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุงุบู’ููุฑู’ ู„ูู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู’ู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููŠู’ู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ูŽุงุชู ุงูŽู„ู’ุฃูŽุญู’ูŠูŽุงุกู ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽู…ู’ูˆูŽุงุชู ุงูู†ู‘ูŽูƒูŽ ุณูŽู…ููŠู’ุนูŒ ู‚ูŽุฑููŠู’ุจูŒ ู…ูุฌููŠู’ุจู ุงู„ุฏู‘ูŽุนู’ูˆูŽุงุชู ูˆูŽู‚ูŽุงุถููŠูŽ ุงู„ู’ุญูŽุงุฌูŽุงุชู. ุงู„ู„ู‡ู… ุฃุนุฒู‘ ุงู„ุฅุณู„ุงู… ูˆุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู† ูˆุงุฎุฐู„ ุงู„ูƒูุฑุฉ ูˆุงู„ู…ุจุชุฏุนุฉ ูˆุงู„ู…ุดุฑูƒูŠู†. ุงู„ู„ู‡ู… ูˆูู‘ู‚ ูˆู„ุงุฉ ุฃู…ูˆุฑู†ุง ุฅู„ู‰ ู…ุง ููŠู‡ ุตู„ุงุญ ุงู„ุฅุณู„ุงู… ูˆุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู†. ุงู„ู„ู‡ู… ุฃุญุจุจู‡ู… ู„ู„ุฑุนูŠุฉ ูˆุฃุญุจุจ ุงู„ุฑุนูŠุฉ ู…ู†ู‡ู…. ูˆุงุฌุนู„ ุฌู…ู‡ูˆุฑูŠุฉ ุฅู†ุฏูˆู†ูŠุณุง ู‡ุฐู‡ ุจู„ุฏุฉ ุขู…ู†ุฉ ู…ุทู…ุฆู†ู‘ุฉ ูˆุณุงุฆุฑ ุจู„ุฏุงู† ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู† ุฅู†ูƒ ุนู„ู‰ ู…ุง ุชุดุงุก ู‚ุฏูŠุฑ.

ุฑูŽุจู‘ูŽู†ูŽุง ุงุบูุฑ ู„ู†ุง ูˆู„ุฅุฎูˆุงู†ู†ุง ุงู„ุฐูŠู† ุณุจู‚ูˆู†ุง ุจุงู„ุฅูŠู…ุงู† ูˆู„ูŽุง ุชูŽุฌู’ุนูŽู„ู’ ููู‰ ู‚ูู„ููˆู’ุจูŽู†ูŽุง ุบูู„ู‘ู‹ุง ู„ูู„ู‘ูŽุฐููŠู’ู†ูŽ ุงูŽู…ูŽู†ููˆู’ุง ุฑูŽุจู‘ูŽู†ูŽุง ุงูู†ู‘ูŽูƒูŽ ุฑูŽุคููˆู’ููŒ ุฑู‘ูŽุญููŠู’ู…ูŒ. ุฑูŽุจู‘ูŽู†ูŽุง ุงูŽุชูู†ูŽุง ููู‰ ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉู‹ ูˆูŽ ููู‰ ุงู„ู’ุขุฎูุฑูŽุฉู ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉู‹ ูˆูŽ ู‚ูู†ูŽุง ุนูŽุฐูŽุงุจูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู.

ุนูุจูŽุงุฏูŽ ุงู„ู„ู‡! ุงูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‡ ูŠูŽุฃู’ู…ูุฑู ุจูุงู„ู’ุนูŽุฏู’ู„ู ูˆูŽ ุงู„ู’ุฅูุญู’ุณูŽุงู†ู ูˆูŽ ุงููŠู’ุชูŽุงุกู ุฐูู‰ ุงู„ู’ู‚ูุฑู’ุจูŽู‰ ูˆูŽ ูŠูŽู†ู’ู‡ูŽู‰ ุนูŽู†ู ุงู„ู’ููŽุญู’ุดูŽุงุกู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูู†ู’ูƒูŽุฑู ูˆูŽุงู„ู’ุจูŽุบู’ู‰ู ูŠูŽุนูุธููƒูู…ู’ ู„ูŽุนูŽู„ู‘ูŽูƒูู…ู’ ุชูŽุฐู‘ูŽูƒู‘ูŽุฑููˆู’ู†ูŽ ููŽุงุฐู’ูƒูุฑููˆู’ุง ุงู„ู„ู‡ ุงู„ู’ุนูŽุธููŠู’ู…ูŽ ูŠูŽุฐู’ูƒูุฑู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽ ุงุดู’ูƒูุฑููˆู’ู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ู†ูุนูŽู…ูู‡ู ูŠูŽุฒูุฏู’ูƒูู…ู’ ูˆุงุณุฃู„ูˆุง ู…ู† ูุถู„ู‡ ูŠุคุชูƒู… ูˆูŽู„ูŽุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ู‡ู ุงูŽูƒู’ุจูŽุฑู ูˆูŽุงู„ู„ู‡ู ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ู ู…ูŽุง ุชูŽุตู’ู†ูŽุนููˆู’ู†ูŽ .