☎ 081234516441 ✉ ppyu39a@gmail.com
📍 Sidoresmo Dalam II/39 A Kel. Jagir Kec. Wonokromo Surabaya
Logo Pondok Pesantren Yanabi'ul Ulum Pondok Pesantren Yanabi'ul Ulum PPYU Sidoresmo
← Semua Berita

Yang Terlihat oleh Mata Manusia Belum Tentu Sama dengan Nilai di Sisi Allah

📅 15 May 2026
Yang Terlihat oleh Mata Manusia Belum Tentu Sama dengan Nilai di Sisi Allah

Oleh: K. MAs Faruq Abdul Muid, M.Pd.

Manusia sering tertipu oleh apa yang tampak. Kita melihat wajah, luka, posisi tubuh, tepuk tangan manusia, atau pujian orang banyak. Lalu dari semua itu, kita tergesa-gesa menyimpulkan: inilah orang baik, inilah orang buruk; inilah husnul khatimah, inilah su’ul khatimah. Padahal, ukuran Allah tidak selalu sama dengan ukuran mata manusia.

Allah telah mengingatkan bahwa bisa jadi sesuatu yang kita benci ternyata baik bagi kita, dan bisa jadi sesuatu yang kita sukai ternyata buruk bagi kita. Allah mengetahui, sedangkan manusia tidak mengetahui.

Salah satu pelajaran besar tentang hal ini dapat kita lihat dari kisah wafatnya Abu Salamah radhiyallahu ‘anhu, suami Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Abu Salamah adalah sahabat Rasulullah ﷺ. Dalam Perang Uhud, beliau mengalami luka. Setelah itu, beliau memimpin satu pasukan dalam sebuah misi. Sepulang dari misi tersebut, luka lamanya dari Uhud kembali bermasalah hingga menjadi sebab wafatnya.

Secara lahiriah, wafatnya Abu Salamah tampak memilukan. Dalam riwayat Shahih Muslim disebutkan bahwa ketika Rasulullah ﷺ datang kepada Abu Salamah yang telah wafat, kedua matanya masih terbuka. Nabi ﷺ kemudian menutup matanya dan menjelaskan bahwa ketika ruh dicabut, pandangan mata mengikutinya. Keluarganya pun menangis. Tetapi Rasulullah ﷺ tidak menjadikan keadaan lahiriah itu sebagai tanda keburukan. Justru beliau menasihati keluarga agar tidak mengucapkan doa kecuali yang baik, karena malaikat mengaminkan ucapan mereka. Setelah itu Nabi ﷺ mendoakan Abu Salamah agar diampuni, ditinggikan derajatnya di kalangan orang-orang yang mendapat petunjuk, dilapangkan kuburnya, dan diberi cahaya di dalamnya.

Di sinilah letak pelajarannya. Mata manusia mungkin hanya melihat jasad yang telah terbujur, mata yang terbuka, luka yang menyakitkan, keluarga yang menangis, dan kematian yang terasa tragis. Tetapi Rasulullah ﷺ melihat dengan bimbingan wahyu dan adab kenabian: jangan cepat menyimpulkan buruk terhadap akhir hidup seorang mukmin. Jangan jadikan bentuk kematian yang tampak berat sebagai bukti bahwa seseorang buruk di sisi Allah.

Kematian yang tampak menyakitkan belum tentu tanda kehinaan. Luka yang tampak mengerikan belum tentu tanda kemurkaan. Air mata keluarga belum tentu tanda buruknya akhir kehidupan. Bisa jadi, di balik pemandangan yang mengguncang mata manusia, Allah sedang mengangkat derajat hamba-Nya.

Allah berfirman bahwa orang-orang yang gugur di jalan-Nya tidak boleh dianggap mati dalam makna kehinaan. Mereka hidup di sisi Rabb mereka dan diberi rezeki. Maka, seorang mukmin tidak boleh hanya membaca kematian dari permukaannya. Ada rahasia kemuliaan yang tidak selalu dapat dibaca oleh mata.

Namun, pelajaran ini menjadi lebih kuat ketika dibandingkan dengan kisah lain yang berbanding terbalik.

Dalam Shahih al-Bukhari disebutkan ada seorang laki-laki yang berperang bersama kaum muslimin. Secara lahiriah, ia tampak sangat hebat. Ia bertempur dengan gagah berani. Orang-orang melihatnya sebagai pejuang yang besar jasanya. Namun Rasulullah ﷺ bersabda bahwa orang itu termasuk penghuni neraka. Para sahabat tentu heran, sebab yang mereka lihat adalah keberanian dan perjuangan.

Akhirnya, ketika laki-laki itu terluka parah, ia tidak sabar menanggung sakit. Ia mempercepat kematiannya dengan bunuh diri menggunakan pedangnya sendiri. Setelah itu Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa seseorang bisa saja melakukan amalan yang tampak bagi manusia seperti amalan ahli surga, padahal ia termasuk ahli neraka. Sebaliknya, seseorang bisa saja tampak bagi manusia seperti melakukan amalan ahli neraka, padahal ia termasuk ahli surga. Sesungguhnya amal itu bergantung pada akhirnya.

Kisah ini mengguncang hati. Sebab manusia memuji apa yang terlihat, tetapi Allah menilai apa yang tersembunyi. Manusia memandang banyaknya korban yang berhasil ia kalahkan, tetapi Allah mengetahui isi hati dan akhir amalnya. Manusia melihat keberanian di medan perang, tetapi Allah mengetahui bahwa ia mengakhiri hidupnya dengan keputusasaan dan bunuh diri.

Dari dua kisah ini, kita belajar bahwa jangan terlalu cepat menghakimi akhir hidup seseorang.

Ada orang yang wafatnya tampak biasa, tetapi kedudukannya tinggi di sisi Allah. Ada orang yang wafatnya tampak memilukan, tetapi ia pulang membawa kemuliaan. Ada pula orang yang hidupnya dipuji manusia, amalnya tampak besar, jasanya dielu-elukan, tetapi Allah mengetahui cacat tersembunyi dalam hatinya dan buruknya akhir hidupnya.

Karena itu, tugas kita bukan memastikan siapa yang pasti selamat dan siapa yang pasti celaka, kecuali berdasarkan dalil yang jelas. Tugas kita adalah memperbaiki diri, menjaga niat, memperbanyak doa, dan memohon kepada Allah agar diberi husnul khatimah.

Jangan tertipu oleh pujian manusia. Sebab pujian manusia tidak selalu menjadi tanda ridha Allah. Jangan pula mudah merendahkan orang yang tampak menderita. Sebab penderitaan bisa menjadi jalan penghapus dosa dan pengangkat derajat.

Mata manusia hanya melihat permukaan. Allah mengetahui hakikat. Manusia melihat akhir jasad. Allah mengetahui akhir iman. Manusia melihat luka. Allah mengetahui pengorbanan. Manusia melihat seseorang tergeletak di medan perang. Allah mengetahui apakah ia wafat karena ikhlas atau karena putus asa.

Maka, dalam setiap kematian, jagalah lisan. Jangan mudah berkata, “Ia buruk akhir hidupnya.” Jangan mudah pula memastikan, “Ia pasti syahid,” tanpa ilmu. Yang lebih selamat adalah mendoakan kebaikan, memohon ampunan untuk sesama muslim, dan mengambil pelajaran untuk diri sendiri.

Sebab yang paling kita butuhkan bukan sekadar dipandang baik oleh manusia, tetapi dinilai baik oleh Allah. Yang paling kita takutkan bukan sekadar mati dalam keadaan tidak dipuji manusia, tetapi mati dalam keadaan tidak diridhai Allah. Dan yang paling kita harapkan bukan sekadar dikenang sebagai orang baik di bumi, tetapi diterima sebagai hamba yang pulang membawa iman di sisi Rabbul ‘Alamin.

Ya Allah, jangan Engkau jadikan kami tertipu oleh penilaian manusia. Perbaikilah niat kami, luruskan amal kami, kuatkan iman kami, dan wafatkan kami dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin.